Great Tibet Tour Logo GREAT TIBET TOUR ®

Bunga Terakhir Buat Alfi -

The funeral was quiet. Friends and family brought massive wreaths with gold-lettered ribbons, filling the room with a heavy, artificial scent. Alfi stood at the head of the casket, looking at Maya. She looked like she was simply dreaming of something beautiful.

Alfi. Nama yang dulu selalu dia sebut dengan tawa, kini hanya bisu di bibir. Mereka pernah janji bertemu di taman ini setiap musim hujan—tempat pertama Alfi menyelipkan bunga di sela rambutnya. Tapi janji tak selalu menepati waktu. Alfi pergi, bukan karena berpaling, tapi karena langit lebih dulu memanggilnya.

Bagi banyak orang, bunga hanyalah pelengkap. Tapi bagi yang pernah jatuh cinta pada Alfi, bunga adalah kode. Dahulu, satu tangkai mawar merah berarti "aku menunggumu di taman." Buket tulip kuning berarti "senyummu adalah mentari." Namun pagi ini, di atas meja kayu yang dulu menjadi saksi bisu tawa dan air mata, tergeletak satu tangkai lily putih tanpa kartu nama. Hanya sepucuk surat kecil bertuliskan:

Alfi merasa sedih dan ingin menangis, tapi ia tidak ingin membuat Ibunya khawatir. Ia hanya bisa memeluk Ibunya dan mengucapkan terima kasih.

The funeral was quiet. Friends and family brought massive wreaths with gold-lettered ribbons, filling the room with a heavy, artificial scent. Alfi stood at the head of the casket, looking at Maya. She looked like she was simply dreaming of something beautiful.

Alfi. Nama yang dulu selalu dia sebut dengan tawa, kini hanya bisu di bibir. Mereka pernah janji bertemu di taman ini setiap musim hujan—tempat pertama Alfi menyelipkan bunga di sela rambutnya. Tapi janji tak selalu menepati waktu. Alfi pergi, bukan karena berpaling, tapi karena langit lebih dulu memanggilnya.

Bagi banyak orang, bunga hanyalah pelengkap. Tapi bagi yang pernah jatuh cinta pada Alfi, bunga adalah kode. Dahulu, satu tangkai mawar merah berarti "aku menunggumu di taman." Buket tulip kuning berarti "senyummu adalah mentari." Namun pagi ini, di atas meja kayu yang dulu menjadi saksi bisu tawa dan air mata, tergeletak satu tangkai lily putih tanpa kartu nama. Hanya sepucuk surat kecil bertuliskan:

Alfi merasa sedih dan ingin menangis, tapi ia tidak ingin membuat Ibunya khawatir. Ia hanya bisa memeluk Ibunya dan mengucapkan terima kasih.